Pada tanggal 22 Nopember 2012,
Direktorat Jenderal Pajak telah mengeluarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor 24/PJ/2012 dimana dalam ketentuan ini, hal yang paling mendasar adalah
sejak tanggal 1 April 2013 Wajib Pajak sudah tidak bisa lagi menerbitkan Faktur
Pajak. DJP akan menerapkan kebijakan pengawasan PKP dalam bentuk pengendalian
pemberian nomor Faktur Pajak secara jabatan mulai tanggal 1 April 2013. Adapun
teknis pemberian Nomor Seri Faktur Pajak adalah sebagai berikut:
melukis kata menulis cerita
Rabu, 10 April 2013
Kamis, 28 Maret 2013
Memenjara Waktu dengan Perahu Kertas
Karena saya tipikal orang yang tidak mudah membeli buku yang baru terbit dan lebih memilih buku yang telah lama terbit, terlebih buku yang telah difilmkan, maka untuk memangkas waktu libur 3 hari ini saya putuskan untuk membeli buku Perahu Kertas.Lumayan untuk mengisi waktu liburan karena tidak ada aktivitas lain.
melukis kata menulis cerita
Rabu, 06 Maret 2013
Semangat !!!
ada 2 kegembiraan yang melanda diri akhir-akhir ini
1. Kembalinya hasrat untuk menulis kembali
2. Lahirnya bidadariku yang ke-2, Hayundhia Sasi Abinaya
1. Kembalinya hasrat untuk menulis kembali
2. Lahirnya bidadariku yang ke-2, Hayundhia Sasi Abinaya
Selasa, 04 Oktober 2011
Dimanakah Cintaku
Pernahkah kamu mencarinya
mencari dimana cintaku berada
tidak tidak, jangan berfikir aku tak memiliki cinta padamu
cintaku tak terhingga padamu, hanya kamu akan sulit menemukannya
jangan pula kamu cari cintaku dalam binar mataku
terlalu mudah bagimu untuk menemukannya
pernah kucoba menaruh cintaku
berderet dan berbaris di dinding bibir
agar saat kamu hadir segera ku ungkapkan cintaku
tapi sulit, cintaku selalu diam, hening
maukah kamu menemukan cintaku
jika mau, janganlah kamu lihat diriku
lihatlah dirimu, dalam hatimu
karena sejak kita bertemu dulu
cintaku telah kutitipkan

titip dalam relung hatimu
sejak saat itu
di warnet cinta itu
-melukis kata menulis cerita-
Rabu, 14 September 2011
METRO, TAMAN DAN JAGUNG BAKAR
Malam Minggu itu saya putuskan mengajak Istri saya “pacaran” ke Taman Merdeka (tentu saja Nareswari anak saya ikut juga). Sudah lama saya tidak bermalam minggu di taman ini, biasanya sore saya kesini, sekedar ngabuburit, itupun jarang-jarang. Saya lebih senang menyebutnya “taman merdeka’ meskipun banyak yang bilang itu alun-alun atau apapun namanya, karena memang dulu tempat ini adalah sebuah taman yang dipagar keliling dengan rimbunan pohon untuk penghijauan dan ketika malam menjadi tempat “mojok” pasangan muda-mudi, bahkan konon katanya (saya sendiri juga kurang tau karena dulu saya masih kecil) taman ini dahulu dijadikan lahan MTS mangkal, ya betul MTS, Mpok-mpok Tuna Susila…
Kira-kira 15 tahun sudah taman ini berubah, berkat keberanian para mahasiswa “membongkar” pagar maksiat itu. Banyak yang berubah, tapi tak sedikit juga yang tetap,diam,stagnan, tak bergeming oleh perubahan jaman.
Dahulu mungkin hanya 2,3,4,5 atau 6 MTS yang “mangkal” disini plus laki-laki hidung belonteng, namun semua itu sekarang diganti dengan puluhan penjual jagung bakar, puluhan odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan, ratusan pengunjung dan puluhan pasangan muda-mudi yang asyik bercerita satu sama lain.
Saya putuskan untuk menikmati malam ini dengan membeli jagung bakar ditempat langganan saya, benar-benar langganan saya, meskipun bisa dihitung dengan jari tangan kanan saya saja berapa kali saya beli jagung padanya. Taman Kota ini ramai sekali, padahal tidak ada hiburan disini, hanya keramaianlah satu-satunya hiburan disini.
Kota Metro memang enak untuk tinggal, kotanya kecil, tenang, nyaman dan damai. Bukan karena saya tumbuh besar disini saya mengatakan demikian, ini kenyataan (bahkan sebelum bekerja menjadi PNS saya bersumpah saya pensiun di sini saja). Kota kecil ini cocok untuk menikmati sisa hidup dengan tenang kelak, tidak percaya? Silahkan tanyakan ke teman saya, sebut saja namanya Mr. Kantor (karena dia orang kantoran) yang rela pulang-pergi (atau pergi-pulang yang benar, saya masih bingung) Bandar Lampung-Metro hanya untuk “tidur” di Metro, yah benar hanya tidur, karena di sini pun beliau kost, tanpa saudara bahkan mungkin tanpa pacar, mau bertanya ke beliau? Nanti saya kasih nomor HaPe nya.
Sambil menunggu jagung saya matang (saya putuskan untuk membungkusnya saja dan membawanya pulang) saya mencoba menebak-nebak apa penyebab taman ini penuh sekali, menurut saya adalah masyarakat disini haus akan hiburan, dikota kecil ini Mall cuma 1, taman kota juga cuma 1. Mungkin kalau banyak Mall tidak akan ada keramaian seperti ini, akibatnya adalah tidak akan ada penjual jagung bakar, odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan dan saya tentu saja tidak kesini. Ternyata ada banyak sekali hikmah dibalik kecilnya kota ini, ada banyak sekali orang yang menggantungkan nafkahnya dibalik keramaian taman ini. Hmmmm… kota yang kecil namun tetap indah, masih tidak percaya? Silahkan tanyakan sekali lagi kepada teman saya (Mr. Kantor)… silahkan saja..
Tidak terasa jagung bakar saya telah matang, saatnya pulang dan menikmati enaknya jagung bakar ini. Sayang kesenangan saya malam itu harus berkurang karena dalam perjalanan pulang Nares tertidur, kasihan Nares tidak merasakan nikmatnya jagung bakar ini, dan sudah menjadi “resiko” saya untuk menghabiskan jagung bakar jatah Nares,,, dengan terpaksa tentunya (tapi enak).
melukis kata menulis cerita
Senin, 18 April 2011 pukul 21.00
Kira-kira 15 tahun sudah taman ini berubah, berkat keberanian para mahasiswa “membongkar” pagar maksiat itu. Banyak yang berubah, tapi tak sedikit juga yang tetap,diam,stagnan, tak bergeming oleh perubahan jaman.
Dahulu mungkin hanya 2,3,4,5 atau 6 MTS yang “mangkal” disini plus laki-laki hidung belonteng, namun semua itu sekarang diganti dengan puluhan penjual jagung bakar, puluhan odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan, ratusan pengunjung dan puluhan pasangan muda-mudi yang asyik bercerita satu sama lain.
Saya putuskan untuk menikmati malam ini dengan membeli jagung bakar ditempat langganan saya, benar-benar langganan saya, meskipun bisa dihitung dengan jari tangan kanan saya saja berapa kali saya beli jagung padanya. Taman Kota ini ramai sekali, padahal tidak ada hiburan disini, hanya keramaianlah satu-satunya hiburan disini.
Kota Metro memang enak untuk tinggal, kotanya kecil, tenang, nyaman dan damai. Bukan karena saya tumbuh besar disini saya mengatakan demikian, ini kenyataan (bahkan sebelum bekerja menjadi PNS saya bersumpah saya pensiun di sini saja). Kota kecil ini cocok untuk menikmati sisa hidup dengan tenang kelak, tidak percaya? Silahkan tanyakan ke teman saya, sebut saja namanya Mr. Kantor (karena dia orang kantoran) yang rela pulang-pergi (atau pergi-pulang yang benar, saya masih bingung) Bandar Lampung-Metro hanya untuk “tidur” di Metro, yah benar hanya tidur, karena di sini pun beliau kost, tanpa saudara bahkan mungkin tanpa pacar, mau bertanya ke beliau? Nanti saya kasih nomor HaPe nya.
Sambil menunggu jagung saya matang (saya putuskan untuk membungkusnya saja dan membawanya pulang) saya mencoba menebak-nebak apa penyebab taman ini penuh sekali, menurut saya adalah masyarakat disini haus akan hiburan, dikota kecil ini Mall cuma 1, taman kota juga cuma 1. Mungkin kalau banyak Mall tidak akan ada keramaian seperti ini, akibatnya adalah tidak akan ada penjual jagung bakar, odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan dan saya tentu saja tidak kesini. Ternyata ada banyak sekali hikmah dibalik kecilnya kota ini, ada banyak sekali orang yang menggantungkan nafkahnya dibalik keramaian taman ini. Hmmmm… kota yang kecil namun tetap indah, masih tidak percaya? Silahkan tanyakan sekali lagi kepada teman saya (Mr. Kantor)… silahkan saja..
Tidak terasa jagung bakar saya telah matang, saatnya pulang dan menikmati enaknya jagung bakar ini. Sayang kesenangan saya malam itu harus berkurang karena dalam perjalanan pulang Nares tertidur, kasihan Nares tidak merasakan nikmatnya jagung bakar ini, dan sudah menjadi “resiko” saya untuk menghabiskan jagung bakar jatah Nares,,, dengan terpaksa tentunya (tapi enak).
melukis kata menulis cerita
Senin, 18 April 2011 pukul 21.00
JODOH DAN CINTA
Malam itu saya sempat melihat tayangan Mario Teguh Golden Ways di Metro TV, menarik judulnya “Young Love”, meskipun hanya sepenggal iklan saya menonton, namun banyak sekali kalimat-kalimat berharga yang saya dapatkan, ditambah dengan beberapa tulisan yang pernah saya baca membuat saya ingin menulisnya, sekedar berbagi saja. Tidak, anda jangan berfikir saya ingin menjadi Mario Teguh, sama sekali tidak, saya telah bangga dengan menjadi seorang Fiskus, dan saya juga sangat bangga karena nama saya hampir sama dengan nama beliau, meskipun hanya nama Teguh yang sama diantara kami. Akhirnya saya buat tulisan ini, mungkin bermanfaat bagi anda yang sedang patah hati, yang sedang jatuh hati, jombloer, atau seorang Playboy cap gayung.
Cinta Adalah Kebebasan Yang Hanya Dibatasi Oleh Biaya
Orang yang jatuh cinta merasa dirinya bebas, dunia seakan milik berdua, yang lain cuma numpang saja (numpang, bukan nyewa, karena mereka tidak pernah membayar). Orang yang jatuh cinta hidupnya selalu dipenuhi dengan kebebasan, bebas berjanji, bebas merayu, bebas segalanya, hanya satu yang menghalangi semua itu; biaya. “kalau kau jadi istriku, akan kubuatkan istana yang kubangun penuh cinta”, nyatanya setelah menikah hanya gubug reot yang dibuat, alasannya tidak ada uang.
Cinta Adalah Kumpulan Rasa Sayang, Rindu, Benci, Marah, dan Cemburu
Orang yang jatuh cinta akan selalu merasa sayang, rindu bila tidak bertemu, 1 jam akan serasa 1 minggu bila tidak bertemu, dan 1 hari akan serasa 1 jam bila bersama. Tidak ada yang tidak pernah marah dalam menjalani cinta, demikian juga dengan benci dan rindu, semua itu lumrah, wajar tanpa syarat, ibarat garam tanpa masakan, asin banget.
Beberapa waktu yang lalu istri saya bicara “kita kok gak pernah ribut ya cun ?”, saya dengan santai menjawab “pernah kok, hanya riak-riak kecil tapi, tidak ada pasangan yang tidak ada perselisihan”. Cinta itu ibarat Roller Coaster, kadang diatas dan terkadang dibawah, selama masih dalam rel maka tidak aka nada masalah, tidak menarik jika kita menaikinya namun selalu diatas, demikian juga sebaliknya. Kadar cinta seseorang juga demikian, kadang naik dan terkadang turun, kadang rindu dan terkadang benci, marah dan cemburu, semua itu wajar selama masih dalam rel cinta, karena terkadang kita butuh turun untuk dapat naik lebih tinggi.
Romantisme Cinta
Saya suami yang tidak romantis, itu fakta. Beberapa waktu yang lalu istri saya ulang tahun dan sahabat saya menyarankan untuk membelikannya bunga, agar sedikit romantis. Namun apa yang terjadi, saya gagal membelikan istri saya bunga, dengan berbagai alasan tentunya, mungkin lain kali sayang aku akan membelikanmu bunga, semoga saja terlaksana.
Sahabat saya yang lain pernah berbicara bahwa tidak pernah ada romantisme dalam rumah tangga, memberikan sekuntum bunga hanya ada dalam dunia yang dinamakan pacaran serta hanya ada dalam dunia sinetron, mungkin itu benar. Terkadang kita malas mengungkapkan rasa romantis terhadap pasangan kita ketika dia telah menjadi pasangan hidup kita, mungkin dibutuhkan puber ke 2,3,4 dalam menjaga romantisme cinta, jika itu memang dibutuhkan saya siap menjalani puber tersebut, sangat siap. Sering saya melihat pasangan yang berjalan bergandengan tangan, duduk sambil bergenggaman tangan, bahkan ketika pasangannya mengaduh karena sakit kakinya terantuk batu, sang kekasih panik dan sibuk menyembuhkannya (padahal hanya dengan meniup-niup kaki yang sakit atau bahkan hanya mengelus-elusnya saja), dan bisa saya pastikan mereka pasti sedang pacaran atau saya memang sedang menonton sinetron cinta fitri 4. Berbeda ketika melihat pasangan yang sedang berjalan, si pria berjalan tergesa-gesa sedangkan si wanita dengan susah payah mengikutinya, dan ketika si wanita kakinya secara tak sengaja menendang batu sampai sakit, si pria hanya menggerutu saja, kalau yang ini saya pastikan sudah menikah, pasangan suami istri yang tingkat keromantisannya mencapai level stadium 4. Memang romantisme sangat sulit dilakukan (terutama buat saya) ketika telah berumah tangga, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukannya bukan, selama anda mencoba, tentu semua akan bisa terlaksana.
Jodoh Bukan Dicari, Jodoh adalah Hasil Dari Membangun Cinta
Pernah saya bertanya kepada kawan saya mengapa dia tidak segera menikah dan dijawab dengan simple “belum ketemu jodohnya”. Saya beritahu kawan jodoh itu ditangan Tuhan, namun Jika tidak kamu ambil ya ditangan Tuhan terus tidak akan pernah sampai ke tangan kita. Jodoh bukan untuk dicari, kita tidak akan menemukan jodoh saat pacaran, saat baru menikah bahkan saat kita sibuk mencari jodoh itu sendiri, mengapa ? karena jodoh itu adalah hasil dari membangun cinta, cinta yang kita bangun dalam berumah tangga. Kita akan menemukan jodoh kita saat usia kita telah lanjut usia, saat kita telah sulit berdiri, saat janji-janji perkawinan masih sulit dipenuhi, namun dia masih setia mendampingi kita, itulah jodoh kita.
Alangkah anehnya ketika saat pacaran kemudian kita bicara “inilah jodohku”, sebulan kemudian bubar, atau yang lebih extreme lagi saat akan menikah berikrar bahwa dia jodohku, namun belum genap sebulan telah melayangkan talak 3, kemudian cerai dan menikah sampai 7 kali, alangkah banyaknya jodoh kita.
melukis kata menulis cerita
Selasa, 24 Mei 2011 pukul 07.00
Cinta Adalah Kebebasan Yang Hanya Dibatasi Oleh Biaya
Orang yang jatuh cinta merasa dirinya bebas, dunia seakan milik berdua, yang lain cuma numpang saja (numpang, bukan nyewa, karena mereka tidak pernah membayar). Orang yang jatuh cinta hidupnya selalu dipenuhi dengan kebebasan, bebas berjanji, bebas merayu, bebas segalanya, hanya satu yang menghalangi semua itu; biaya. “kalau kau jadi istriku, akan kubuatkan istana yang kubangun penuh cinta”, nyatanya setelah menikah hanya gubug reot yang dibuat, alasannya tidak ada uang.
Cinta Adalah Kumpulan Rasa Sayang, Rindu, Benci, Marah, dan Cemburu
Orang yang jatuh cinta akan selalu merasa sayang, rindu bila tidak bertemu, 1 jam akan serasa 1 minggu bila tidak bertemu, dan 1 hari akan serasa 1 jam bila bersama. Tidak ada yang tidak pernah marah dalam menjalani cinta, demikian juga dengan benci dan rindu, semua itu lumrah, wajar tanpa syarat, ibarat garam tanpa masakan, asin banget.
Beberapa waktu yang lalu istri saya bicara “kita kok gak pernah ribut ya cun ?”, saya dengan santai menjawab “pernah kok, hanya riak-riak kecil tapi, tidak ada pasangan yang tidak ada perselisihan”. Cinta itu ibarat Roller Coaster, kadang diatas dan terkadang dibawah, selama masih dalam rel maka tidak aka nada masalah, tidak menarik jika kita menaikinya namun selalu diatas, demikian juga sebaliknya. Kadar cinta seseorang juga demikian, kadang naik dan terkadang turun, kadang rindu dan terkadang benci, marah dan cemburu, semua itu wajar selama masih dalam rel cinta, karena terkadang kita butuh turun untuk dapat naik lebih tinggi.
Romantisme Cinta
Saya suami yang tidak romantis, itu fakta. Beberapa waktu yang lalu istri saya ulang tahun dan sahabat saya menyarankan untuk membelikannya bunga, agar sedikit romantis. Namun apa yang terjadi, saya gagal membelikan istri saya bunga, dengan berbagai alasan tentunya, mungkin lain kali sayang aku akan membelikanmu bunga, semoga saja terlaksana.
Sahabat saya yang lain pernah berbicara bahwa tidak pernah ada romantisme dalam rumah tangga, memberikan sekuntum bunga hanya ada dalam dunia yang dinamakan pacaran serta hanya ada dalam dunia sinetron, mungkin itu benar. Terkadang kita malas mengungkapkan rasa romantis terhadap pasangan kita ketika dia telah menjadi pasangan hidup kita, mungkin dibutuhkan puber ke 2,3,4 dalam menjaga romantisme cinta, jika itu memang dibutuhkan saya siap menjalani puber tersebut, sangat siap. Sering saya melihat pasangan yang berjalan bergandengan tangan, duduk sambil bergenggaman tangan, bahkan ketika pasangannya mengaduh karena sakit kakinya terantuk batu, sang kekasih panik dan sibuk menyembuhkannya (padahal hanya dengan meniup-niup kaki yang sakit atau bahkan hanya mengelus-elusnya saja), dan bisa saya pastikan mereka pasti sedang pacaran atau saya memang sedang menonton sinetron cinta fitri 4. Berbeda ketika melihat pasangan yang sedang berjalan, si pria berjalan tergesa-gesa sedangkan si wanita dengan susah payah mengikutinya, dan ketika si wanita kakinya secara tak sengaja menendang batu sampai sakit, si pria hanya menggerutu saja, kalau yang ini saya pastikan sudah menikah, pasangan suami istri yang tingkat keromantisannya mencapai level stadium 4. Memang romantisme sangat sulit dilakukan (terutama buat saya) ketika telah berumah tangga, namun bukan berarti kita tidak bisa melakukannya bukan, selama anda mencoba, tentu semua akan bisa terlaksana.
Jodoh Bukan Dicari, Jodoh adalah Hasil Dari Membangun Cinta
Pernah saya bertanya kepada kawan saya mengapa dia tidak segera menikah dan dijawab dengan simple “belum ketemu jodohnya”. Saya beritahu kawan jodoh itu ditangan Tuhan, namun Jika tidak kamu ambil ya ditangan Tuhan terus tidak akan pernah sampai ke tangan kita. Jodoh bukan untuk dicari, kita tidak akan menemukan jodoh saat pacaran, saat baru menikah bahkan saat kita sibuk mencari jodoh itu sendiri, mengapa ? karena jodoh itu adalah hasil dari membangun cinta, cinta yang kita bangun dalam berumah tangga. Kita akan menemukan jodoh kita saat usia kita telah lanjut usia, saat kita telah sulit berdiri, saat janji-janji perkawinan masih sulit dipenuhi, namun dia masih setia mendampingi kita, itulah jodoh kita.
Alangkah anehnya ketika saat pacaran kemudian kita bicara “inilah jodohku”, sebulan kemudian bubar, atau yang lebih extreme lagi saat akan menikah berikrar bahwa dia jodohku, namun belum genap sebulan telah melayangkan talak 3, kemudian cerai dan menikah sampai 7 kali, alangkah banyaknya jodoh kita.
melukis kata menulis cerita
Selasa, 24 Mei 2011 pukul 07.00
Selasa, 13 September 2011
Kaki Tangan Surga
Pernah kulihat bujang bertangan satu
Yang dengan tangannya
Sibuk bekerja menyemir sepatu
Pernah juga kutemui lelaki berkaki
Kiri
Yang dengan kakinya itu
Sibuk mendorong gerobag
Mencari rongsokan sampah disana-sini
Boleh jadi tangan mereka lebih banyak bekerja
Daripada tangan kita
Yang kanan untuk merokok
Sedangkan yang kiri hanya untuk membersihkan kotoran diri
Boleh jadi pula kaki mereka lebih banyak bekerja
Dibandingkan kaki kita
Yang hanya dipakai untuk menopang raga
Surga memang dibawah telapak kaki ibu
Tapi.....
"pintu surga" ada di kaki dan tangan ayah yang sibuk bekerja
Jadi...
Mari sibuk bekerja
melukis kata menulis cerita
23 juni 2011
07.00
Yang dengan tangannya
Sibuk bekerja menyemir sepatu
Pernah juga kutemui lelaki berkaki
Kiri
Yang dengan kakinya itu
Sibuk mendorong gerobag
Mencari rongsokan sampah disana-sini
Boleh jadi tangan mereka lebih banyak bekerja
Daripada tangan kita
Yang kanan untuk merokok
Sedangkan yang kiri hanya untuk membersihkan kotoran diri
Boleh jadi pula kaki mereka lebih banyak bekerja
Dibandingkan kaki kita
Yang hanya dipakai untuk menopang raga
Surga memang dibawah telapak kaki ibu
Tapi.....
"pintu surga" ada di kaki dan tangan ayah yang sibuk bekerja
Jadi...
Mari sibuk bekerja
melukis kata menulis cerita
23 juni 2011
07.00
Langganan:
Postingan (Atom)
