Malam Minggu itu saya putuskan mengajak Istri saya “pacaran” ke Taman Merdeka (tentu saja Nareswari anak saya ikut juga). Sudah lama saya tidak bermalam minggu di taman ini, biasanya sore saya kesini, sekedar ngabuburit, itupun jarang-jarang. Saya lebih senang menyebutnya “taman merdeka’ meskipun banyak yang bilang itu alun-alun atau apapun namanya, karena memang dulu tempat ini adalah sebuah taman yang dipagar keliling dengan rimbunan pohon untuk penghijauan dan ketika malam menjadi tempat “mojok” pasangan muda-mudi, bahkan konon katanya (saya sendiri juga kurang tau karena dulu saya masih kecil) taman ini dahulu dijadikan lahan MTS mangkal, ya betul MTS, Mpok-mpok Tuna Susila…
Kira-kira 15 tahun sudah taman ini berubah, berkat keberanian para mahasiswa “membongkar” pagar maksiat itu. Banyak yang berubah, tapi tak sedikit juga yang tetap,diam,stagnan, tak bergeming oleh perubahan jaman.
Dahulu mungkin hanya 2,3,4,5 atau 6 MTS yang “mangkal” disini plus laki-laki hidung belonteng, namun semua itu sekarang diganti dengan puluhan penjual jagung bakar, puluhan odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan, ratusan pengunjung dan puluhan pasangan muda-mudi yang asyik bercerita satu sama lain.
Saya putuskan untuk menikmati malam ini dengan membeli jagung bakar ditempat langganan saya, benar-benar langganan saya, meskipun bisa dihitung dengan jari tangan kanan saya saja berapa kali saya beli jagung padanya. Taman Kota ini ramai sekali, padahal tidak ada hiburan disini, hanya keramaianlah satu-satunya hiburan disini.
Kota Metro memang enak untuk tinggal, kotanya kecil, tenang, nyaman dan damai. Bukan karena saya tumbuh besar disini saya mengatakan demikian, ini kenyataan (bahkan sebelum bekerja menjadi PNS saya bersumpah saya pensiun di sini saja). Kota kecil ini cocok untuk menikmati sisa hidup dengan tenang kelak, tidak percaya? Silahkan tanyakan ke teman saya, sebut saja namanya Mr. Kantor (karena dia orang kantoran) yang rela pulang-pergi (atau pergi-pulang yang benar, saya masih bingung) Bandar Lampung-Metro hanya untuk “tidur” di Metro, yah benar hanya tidur, karena di sini pun beliau kost, tanpa saudara bahkan mungkin tanpa pacar, mau bertanya ke beliau? Nanti saya kasih nomor HaPe nya.
Sambil menunggu jagung saya matang (saya putuskan untuk membungkusnya saja dan membawanya pulang) saya mencoba menebak-nebak apa penyebab taman ini penuh sekali, menurut saya adalah masyarakat disini haus akan hiburan, dikota kecil ini Mall cuma 1, taman kota juga cuma 1. Mungkin kalau banyak Mall tidak akan ada keramaian seperti ini, akibatnya adalah tidak akan ada penjual jagung bakar, odong-odong, delman, penjual kacang, mainan anak kecil, pancing-pancingan dan saya tentu saja tidak kesini. Ternyata ada banyak sekali hikmah dibalik kecilnya kota ini, ada banyak sekali orang yang menggantungkan nafkahnya dibalik keramaian taman ini. Hmmmm… kota yang kecil namun tetap indah, masih tidak percaya? Silahkan tanyakan sekali lagi kepada teman saya (Mr. Kantor)… silahkan saja..
Tidak terasa jagung bakar saya telah matang, saatnya pulang dan menikmati enaknya jagung bakar ini. Sayang kesenangan saya malam itu harus berkurang karena dalam perjalanan pulang Nares tertidur, kasihan Nares tidak merasakan nikmatnya jagung bakar ini, dan sudah menjadi “resiko” saya untuk menghabiskan jagung bakar jatah Nares,,, dengan terpaksa tentunya (tapi enak).
melukis kata menulis cerita
Senin, 18 April 2011 pukul 21.00
Tidak ada komentar:
Posting Komentar